Aku Tetap Mencintaimu

Sebagai perawat dia telah bertahun-tahun membaktikan dirinya. Menyuntik, mengganti infus, menyiapkan obat, melayani pasien sudah menjadi rutinitas yang sudah mendarah daging. Siang itu seperti biasa dia mengganti infuse salah seorang pasien. Selesai memasang infus yang baru, infus bekas itu dirapikan untuk dibuang. Dipegangnya jarum dengan hati-hati untuk dimasukkan ke dalam selongsong. Namun entah kenapa tiba-tiba jarum itu meleset dan menusuk jarinya. Tusukan itu membuat ujung jarinya berdarah, sebuah kecelakaan yang tak begitu dia hiraukan awalnya. Tapi ketika dia teringat bahwa pasien itu mengidap HIV segera keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya. Dengan gugup ditekan-tekannya ujung jarinya seperti hendak memaksa semua darah keluar. Dia mulai panik dan khawatir, namun nalarnya tetap bekerja. Dimasukkan jarum itu dengan benar ke dalam selongsong lalu dirapikan dan dimasukkan ke kantong plastik. Bergegas dia keluar menuju bangsal perawatan.

Laporan mengenai kejadian itu membuat pihak rumah sakit bereaksi cepat. Dia harus menjalani pemeriksaan secara intensif. Secara khusus dia diperiksa untuk kemungkinan tertular penyakit yang mematikan itu. Sekalipun hasilnya negatif tapi tindakan preventif segera diambil, dia harus minum obat selama tiga bulan terus menerus. Obat yang harus diminum dengan selang waktu yang harus tepat itu sungguh menyiksa dirinya. Selama seminggu dia menyimpan kejadian itu dari suaminya. Ada perasaan takut dalam dirinya jika suaminya mengetahui apa yang dia alami. Takut jika suaminya berubah sikap atau menjauh dari dirinya. Jika sampai hal itu terjadi maka bukan hanya suaminya tapi juga seluruh keluarganya akan menjauh. Dia akan terkucil, sendirian, dan mengalami penderitaan batin yang mungkin lebih hebat dari akibat penyakit itu. Malam itu dia baru saja selesai berdoa, dia mulai mengumpulkan kekuatan dan mencoba untuk menepis ketakutannya. Bagaimanapun suaminya harus tahu apa yang terjadi, sebelum curiga atau tahu dari orang lain. Dia harus berani mengatakannya, apapun resikonya.

Akhirnya dengan perlahan dia menceritakan peristiwa yang terjadi seminggu lalu pada suaminya. Tampak suaminya memperhatikan dengan seksama dan sesekali keningnya berkerut. Selesai dia bercerita, suaminya hanya diam. Hening, sepi menyelimuti ruang kamar tidur itu. Ketakutan yang sedari tadi dia tepis, perlahan tapi pasti mulai membesar. Suasana sepi itu seperti menyulut dan membuat ketakutan itu berkobar hebat. “Itulah resiko sebuah pelayanan, kamu tak perlu khawatir, kamu tak perlu takut. Tak akan ada yang berubah di rumah ini karena peristiwa itu, karena apapun yang terjadi, aku tetap mencintaimu…” Kalimat itu seperti embun malam yang membasahi hatinya. Dipeluknya laki-laki di depannya erat-erat dan dia berbisik dengan lega, “Terima kasih, mas!”

Cerita Oleh G. Garuda S.

Ranting Embun Edisi Kamis Putih 9 April 2009

http://www.rantingembun.co.nr

Published by

Richard Reynaldo

Richard Reynaldo alias Raden Mas Gandrik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s