Aku Pulang

Aku pulang ke kampung halamanku, ya…pulang dengan perasaan yang tidak karuan. Ada rasa jengkel, sedih, sakit hati, marah….yang semuanya menjadi satu. Menjadi satu seperti air bah yang siap membuat bendungan jebol lalu melanda semua yang ada di depanku. Ingatan akan gadis yang selama ini menjadi kekasihku, menjadi calon istriku dan baru seminggu lalu menikah dengan orang lain sungguh teramat sangat menyesakkan.

Sebenarnya sangat enggan bagiku untuk pulang, namun karena keadaan ibuku, aku tak mungkin untuk tidak pulang. Ibu yang sudah menjelang tua, tak mampu menahan gejolak perasaannya yang merasa sangat kecewa, merasa sangat malu dengan tetangga kiri-kanan. Sekalipun aku yakin, tak ada satupun dari mereka yang menyalahkan beliau, yang mencibir atau merendahkan beliau. Aku sangat yakin tetangga kiri kanan kami dan semua

yang kami kenal, akan merasa iba dengan apa yang terjadi di keluarga kami, khususnya apa yang terjadi pada diriku.

Baru tiga bulan yang lalu orang tuaku melamar gadis yang menjadi kekasihku selama satu tahun itu. Kecantikan dan kepandaiannya yang lebih dari gadis-gadis lain di desaku, membuat kedua orangtuaku bangga padanya, bangga padaku yang pandai memilih pasangan hidup. Untuk memperteguh ikatan tersebut, kedua orangtuaku juga menyerahkan pasok tukon. Bisa dikatakan 90% kami akan menjadi pasangan suami istri.

Namun sungguh kami tak menyangka, hanya karena rencana pernikahan kami undur karena kami harus mempersiapkan dana yang belum juga terkumpul, telah membuat semua rencana itu hancur. Aku tak habis pikir dengan cara berpikir kekasihku, yang tidak bisa menerima rencana pengunduran itu dan menganggap bahwa aku tidak serius dengannya, lalu memutuskan hubungan begitu saja. Terlebih lagi aku sangat tidak menyangka bahwa dengan waktu secepat itu, dia telah memutuskan untuk menikah dengan laki-laki lain.

Aku duduk di dekat pembaringan, di mana ibuku tergolek lemah. Tangannya yang mulai keriput, kuusap pelan. Ibu memalingkan wajah dan menatapku yang baru saja datang. Dari sudut matanya mengalir air mata, dan tangan kanannya menjulur, menyerahkan padaku sepucuk undangan berwarna merah. Undangan pernikahan yang telah berlangsung seminggu lalu. Di depan ibuku, seungguhnya aku tak mampu lagi membendung perasaanku. Hanya ketakutanku terhadap kondisi ibu yang mencegah aku untuk mengungkapkannya saat itu. Kuambil undangan itu dari tangan ibu, sambil kubisikkan kata-kata yang kuharap dapat membuat batinnya merasa tenteram dan terhibur, “Ibu, ini semua mungkin sudah menjadi kersane Gusti. Aku nggak apa-apa, Bu! Ibu jangan lagi bersedih, apa yang menjadi kehendak Gusti tentu baik adanya. Mungkin Gusti juga sudah mempersiapkan calon lain untuk menjadi istriku nanti….” Aku bergegas bangkit dan melangkah keluar menuju halaman belakang untuk menangis

Seperti dikutip dalam Ranting Embun edisi 5 Juli 2009

Oleh : G. Garuda Sukmantoro

www.rantingembun.co.nr

Published by

Richard Reynaldo

Richard Reynaldo alias Raden Mas Gandrik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s