Halaman Cinta

Dia bukan seorang tokoh, seorang rohaniwan, atau spiritualis, tapi dia seorang bapak biasa. Seorang bapak yang meninggal dalam usia tuanya. Aku sendiri tidak mengenalnya saat dia masih hidup. Aku hanya mengenal dari anaknya yang kemudian menjadi sahabatku.

Bagi anaknya, dia sendiri bukanlah sosok yang teramat istimewa, bahkan anak dan istrinya terlambat mengenal dia yang sesungguhnya. Menurut temanku, ketika dia masih kecil, bapaknya bekerja di luar pulau dan sangat jarang berkumpul bersama keluarga. Baru setelah pensiun beliau bisa berkumpul dengan istri dan anak-anaknya, namun hubungan mereka pun tidak begitu hangat. Bapaknya seorang yang pendiam dan sangat pendiam. Beliau hanya berbicara seperlunya saja, selebihnya waktunya habis di kebun dan baru masuk kembali ke dalam rumah sore hari.

Kehidupannya di masa muda tak pernah dia ceritakan pada siapapun seperti layaknya orang-orang tua lainnya. Pergulatannya di masa tua pun tidak pernah diceritakan pula. Anak-anak dan istrinya baru tahu seluruh pemikirannya, perasaannya, dan pergulatan hidupnya dari sebuah buku yang sebelumnya selalu tersimpan di dalam laci almari. Dan laci itu baru dibuka sesuai dengan pesan terakhir sebelum beliau menghembuskan napas yang terakhir.

Tulisan di dalam buku itu pun dibacakan pada saat misa peringatan tiga hari meninggalnya beliau. Namun buku itu tidak selesai dibacakan, karena yang membacanya sendiri tak mampu lagi menahan haru dan tak sanggup untuk meneruskannya. Kalimat demi kalimat yang dibaca menjadi sebuah cerita yang mengagumkan tentang beliau. Aku yang hanya ikut mendengar dan sebelumnya sama sekali tak mengenal beliau seperti tersihir dan larut dalam ketakjuban dan rasa haru. Aku hanya bisa membayangkan bagaimana beliau bergulat dengan perasaan dan dinamika imannya yang mungkin tidak dialami oleh orang lain, terlebih olehku. Ada beberapa kalimat yang sangat mengena bagi diriku dan bersarang terus dibenakku hingga berhari-hari.

Pada peringatan 40 hari meninggalnya beliau, aku memberanikan diri untuk memohon agar diperkenankan meminjam buku tersebut. Melihat kesungguhanku, istrinya mengijinkan buku itu untuk aku bawa. Sampai di rumah satu per satu halaman kubaca dengan seksama. Buku itu lebih merupakan antologi permenungan sepanjang hidup beliau.

Aku tertegun ketika kubaca alinea pertama di salah satu halaman, “Keharusan menerima engkau dengan anak dalam kandunganmu yang jelas-jelas bukan darah dagingku, membuat aku seperti bercermin di cermin yang retak. Kulihat bayanganku pecah, tersayat. Tapi biarlah cermin itu hanya untukku, bukan untukmu, bukan pula untuk anak kita.” Aku mulai memahami bahwa Andi sahabatku, bukanlah anak kandungnya. Aku mulai mengerti mengapa hubungan mereka tidak begitu dekat. Di salah halaman lain kubaca, “Aku seperti berada di persimpangan, ketika aku merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya. Sebenarnya aku bebas untuk memilih, mendapatkan kembali diriku yang utuh, atau bertahan dengan bayangan retak bersama kalian. Tapi aku telah menjatuhkan pilihan, dan pilihanku adalah menjadi wujud nyata kasih Tuhan bagi kalian.” Sebuah pengorbanan yang merupakan konsekuensi panggilan. Lembar demi lembar terus kubaca hingga aku kembali berhenti di sebuah paragraf, “Adakah ini puncak dari jalan yang harus kulalui, ketika kulihat engkau bersimpuh di depanku dan menyerah pasrah? Adakah aku harus mengampunimu lagi ketika engkau kembali mengatakan bahwa engkau telah hamil kembali dan bukan karena aku? Aku bukan Yesus, tapi melihat engkau dan anakmu, tak mungkin aku menjadi pelempar batu yang pertama untuk dosamu.” Kututup buku itu, sebagai seorang laki-laki aku tak bisa membayangkan lagi bagaimana perasaannya kala itu. Ketika hendak meletakkan buku itu di meja, ada keinginan untuk sekali lagi membukanya. Kubuka begitu saja dan kutemukan halaman terakhir yang hanya bertuliskan beberapa kalimat, “Istri dan anak-anakku, aku tahu bahwa nyala lampu itu telah padam. Tapi Dia kembali menyalakannya dengan api yang baru. Maka kukatakan dengan sepenuh hati kepada kalian, ‘Tak ada alasan apapun bagiku untuk tidak mencintai kalian, karena melalui kalianlah Dia telah menyatakan cintaNya kepadaku. ’Istri dan anak-anakku yang kukasihi, aku sebagai seorang suami dan sebagai ayah kalian, aku yakin akan satu hal. Bahwa hidupku tak akan pernah berhenti. Mungkin badanku tak lagi bersama kalian nanti, tapi percayalah bahwa hidupku tidaklah ikut berakhir. Hidupku untuk kalian, akan terus menyala dan memberi kehangatan dalam jiwa kalian.”

Kuletakkan buku itu dan kuambil buku harianku. Kusalin beberapa baris terakhir dari halaman penutupnya. Kalimat yang bagiku menjadi sangat indah, terlebih setelah aku lebih banyak mengetahui perjalanan hidupnya. Aku pun berharap, bahwa di hidupku, di dalam panggilanku sebagai seorang ayah, aku mampu bersikap dan mampu melihat istri dan anak-anakku sebagai karunia bagiku dan aku mampu pula menjadikan diriku sebagai karunia terindah bagi mereka.

Seperti dikutip dalam Ranting Embun edisi 3 Mei 2009

Oleh : G. Garuda Sukmantoro

www.rantingembun.co.nr

Published by

Richard Reynaldo

Richard Reynaldo alias Raden Mas Gandrik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s