Kenangan dalam Cermin

Aku memang sering berlama-lama di depan cermin. Bukannya aku terlalu narsis, tetapi aku selalu ingat akan satu hal kecil yang menjadi kenangan paling indah dalam hidupku. Rambutku panjang, hitam, dan terawat dengan baik. Aku tak pernah tergesa-gesa menggerakkan sisir setiap kali merapikan rambut. Sungguh aku sangat menikmati saat-saat menyisir rambut. Saat yang mengingatkan aku pada kasih sayang ibuku. Sampai menjelang kuliah, ibu masih sering menyisir rambut panjangku. Aku duduk di depan cermin, sementara beliau berdiri di belakangku, menatap bayanganku di dalam cermin sambil menggerakkan sisir menyusuri helai-helai rambutku dengan pelan. Terkadang beliau bercerita tentang masa mudanya, kadang kami bercanda. Setelah rambutku tersisir rapi, kemudian tangannya dengan lembut memegang dan membuat gerakan untuk menggelung rambut panjangku. Pada tahap terakhir, masih dari arah belakang ibu memegang kedua pelipisku dengan ujung jari kedua tangannya, menatap wajahku dalam cermin, lalu memberi nasehat. Banyak kata-kata beliau yang lalu aku catat dan kujadikan pegangan dalam hidupku. Ketika ibu meninggal, akulah yang paling terpukul. Berhari-hari setelah pemakaman aku diam, duduk di depan cermin, dan sama sekali tidak beranjak. Aku seperti melihat bayangan ibuku di dalam cermin sedang berdiri di belakangku seperti saat menyisir rambutku. Dengan duduk di depan cermin dan membiarkan rambutku terurai, aku seperti tak pernah kehilangan ibu. Kenangan indah itu sangat menghibur aku dari hari ke hari hingga saat ini. Juga di saat aku patah hati seperti yang sedang kualami sekarang.

 

Andi memutuskan hubungan kami setelah hampir satu tahun bekerja di Surabaya. Satu-satunya alasan yang dia katakan adalah, dia merasa tidak cocok lagi denganku. Aku tahu alasan itu hanya dibuat-buat, karena alasan sebenarnya adalah dia jatuh cinta pada perempuan lain. Ketika aku membaca SMS darinya, aku langsung merasa lemas. Duniaku seperti berubah menjadi gelap. Perasaan marah, kecewa, sakit hati, tak percaya,

dan tak mengerti semua bergulung menjadi satu menjadi perasaan aneh yang membuat aku kehilangan kontrol diri. Hanya dalam hitungan menit semua barang di kamarku yang bisa pecah menjadi pecah kecuali cermin rias. Tak ada satupun barang di kamarku yang tertata pada tempatnya, sekalipun itu debu. Ketika aku merasa puas dengan tingkah anehku, air mata habis mengalir keluar yang tanpa kusadari. Ku tarik kursi yang telah terguling dan aku duduk di depan cermin.

Aku merasa hidupku tak berarti, waktu bertahun-tahun berpacaran seperti mimpi yang berlalu dalam sekejap tanpa arti. Kenangan bersamanya seperti bolam yang terlepas dari tempatnya dan jatuh pecah berkeping-keping saat menyentuh lantai, dan membuat ruang kehidupanku gelap gulita. Serpih-serpih kaca itu menjadi kenangan yang membuat luka setiap langkahku. Sehari-semalam aku duduk di depan cermin riasku dengan tatapan kosong ke arah bayangan diriku di dalamnya. Tiba-tiba seperti ada yang membelai rambutku dari belakang, suasana kamar berubah menjadi teduh, senyap dan ingatanku melayang pada mendiang ibu. Beliau seperti berdiri tepat di belakangku, menysisir rambutku, menggelungnya, lalu menegakkan kepalaku sambil berkata, “Semoga harimu indah, jangan pernah membiarkan satu saat pun tertinggal tanpa arti.” Kalimat yang biasanya selalu beliau ucapkan setiap aku hendak berangkat sekolah.

Sambil tersenyum-senyum karena merasakan betapa bodohnya apa yang telah aku perbuat, aku mulai membereskan kembali kamarku yang berantakan. Kupungut dompet yang tergeletak di sudut kamar setelah tadi kulempar. Kubuka dompet itu, lalu aku tarik keluar foto Andi untuk kembali kuganti dengan foto ibuku. Foto kecil yang selama ini tersimpan di laci meja belajar, yang tergusur oleh foto Andi selama bertahun-tahun, kini kembali lagi pada tempatnya, terselip di dalam dompetku. Namun ada foto yang tak pernah bisa kumasukkan ke dalam dompet. Foto saat ibu berdiri di belakangku dan menatap bayangan wajahku di dalam cermin.

Seperti dikutip dalam Ranting Embun edisi 17 Mei 2009

Oleh : G. Garuda Sukmantoro

www.rantingembun.co.nr

Published by

Richard Reynaldo

Richard Reynaldo alias Raden Mas Gandrik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s