Lembar Tak Terbaca

Ibu itu meninggal di usia 72 tahun, sementara suaminya telah mendahului dia 15 tahun yang lalu. Sebagai orang tua beliau berhasil dalam mengantar anak-anaknya untuk menjadi orang-orang yang sukses. Anaknya yang sulung tinggal di Jakarta dan menjadi seorang pengusaha, sementara adiknya memilih menjadi warga negara Australia dan menjadi pengusaha pula. Berita meninggalnya Ibu mereka telah membuat mereka yang selama ini sangat jarang pulang ke Yogya untuk datang. Setelah misa reqiem selesai maka pihak keluarga diberi kesempatan untuk menyampaikan sambutan. Pak Aryo anaknya sulung yang sedari tadi hanya diam pun berdiri. Dengan suara yang berat dia memulai sambutannya, sementara para pelayat mendengarkan dengan seksama.

“Bapak, Ibu, dan saudara sekalian yang terkasih dalam Krsitus. Hari ini, meninggalnya ibu kami membuka sebuah lembaran dalam hidup kami yang selama ini tidak pernah kami baca. Lembaran itu penuh dengan tulisan tangan ibu kami yang selama ini digoreskan untuk kami berdua, dan secara pribadi saya sendiri tidak yakin apakah akan mampu membacanya sepanjang sisa hidup saya. Kami baru tahu mengenai hal itu dari Mbok Nah pembantu yang selama ini dengan setia menemani ibu. Tadi malam ketika kami datang, kami langsung menegur dia karena tidak pernah memberi kabar tentang kesehatan ibu.

Tetapi saat itu, sebenarnya kami sedang menegur diri kami sendiri yang selama ini tak pernah menghubungi atau menanyakan kabar mengenai ibu. Tanpa kami sadari kami telah membuka gerbang kesalahan kami terhadap ibu. Ketidakpedulian kami terhadap beliau karena demikian asyiknya dengan kehidupan kami sendiri telah melupakan sosok beliau yang selama ini ternyata sangat mempedulikan kami. Mbok Nah yang selama ini setia menemani ibu bercerita bahwa menurunnya kesehatan ibu dikarenakan ibu sangat kurang tidur. Setiap hari ibu tidur pukul 03.00 dini hari, setelah berjam-jam berdoa. Setiap pukul 12 malam ibu mulai berdoa, dan Mbok Nah yang berada di samping kamar

beliau selalu dapat mendengarkan apa yang ibu doakan. Ibu selalu berdoa untuk kami. Satu jam ibu berdoa di bekas kamar saya, dan satu jam ibu berdoa di kamar adik saya. Ibu selalu menyalakan lilin di kamar-kamar kami yang bertahun-tahun telah kami tinggal pergi. Ibu mendoakan kesehatan kami, kesehatan anak-anak kami, kelancaran usaha kami, memohon rahmat agar kami dapat menyelesaikan persoalan hidup kami. Ibu selalu berdoa untuk kebahagiaan kami, ketenteraman hidup kami. Tak ada satu pun permohonan ibu untuk dirinya sendiri. Tapi doa-doa itu hanya dapat didengar oleh Mbok Nah, dan bukan oleh kami. Tidak pernah terlintas dalam benak kami akan peristiwa setiap malam yang terjadi di rumah ini.

Selama ini kami meyakini bahwa segala kesuksesan, kebahagiaan, ketenteraman keluarga kami, karier kami yang menanjak adalah karena kepandaian dan usaha keras kami. Selama ini pula kami meyakini bahwa kami berhasil karena cucuran keringat kami sendiri. Tetapi Mbok Nah telah menyadarkan kami, bahwa kami salah. Tak semenit pun dalam ingatan kami bersemayam sosok ibu kami, sementara tak semenit pun kehidupan kami bergeser dari ingatan ibu. Tak sehari pun dari waktu kami selama bertahun-tahun untuk kami sempatkan melihat dan menengok keadaan ibu kami, tapi tak sehari pun dari waktu yang dimiliki ibu kami yang tidak beliau pergunakan untuk berkunjung dalam kehidupan kami.

Di setiap ulang tahun kami, ulang tahun istri dan anak-anak kami, ibu selalu menyampaikan ujub khusus di gereja. Ibu selalu merayakan ulang tahun kami di rumah ini, sendiri. Hanya dengan rangkaian bunga kecil dan lilin menyala, ibu merayakannya bersama Mbok Nah dengan berdoa di ruang tamu rumah ini. Sementara itu kami tak pernah peduli bahkan tak pernah mengingat ulang tahun kami. Peristiwa-peristiwa di rumah ini tertulis dalam lembaran dalam kehidupan kami, dan tulisan-tulisan kasih sayang ibu…tak mampu kami membacanya.” Pak Aryo menundukkan kepala, mengusap air mata yang mengalir di pipinya, namun ketika dia hendak melanjutkan kata-katanya tak lagi keluar, hanya bibirnya yang bergetar tanpa suara menahan perasaan haru. Akhirnya hanya satu kata ‘maaf’ yang meluncur dan Pak Aryo masuk ke dalam kamar tamu di mana jenasah ibunya disemayamkan.

Peristiwa itu membuat semua yang hadir tertegun bahkan tak sedikit dari mereka yang juga mengusap air mata haru. Seorang ibu bangkit dari tempat duduknya dan perlahan masuk ke ruang tamu. Dia berlutut di depan jenasah di samping Pak Aryo. Apa yang dilakukan oleh ibu itu seolah komando yang menggerakkan orang lain untuk juga bangkit berdiri dan masuk ke ruang jenasah. Akhirnya ruangan tamu itu penuh bahkan sampai ke teras rumah. Semua orang yang berada di samping peti jenasah berlutut dan menundukkan kepala mereka. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba terdengar suara lirih, mendaraskan doa Salam Maria yang lalu diikuti oleh beberapa orang, sampai akhirnya semua yang berada di tempat itu berdoa Salam Maria bersama-sama. “salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah engkau diantara wanita dan terpujilah buah tubuhmu Yesus. Santa Maria Bunda Allah doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati, Amin. Salam Maria…….”

Seperti dikutip dalam Ranting Embun edisi 24 Mei 2009

Oleh : G. Garuda Sukmantoro

www.rantingembun.co.nr

Published by

Richard Reynaldo

Richard Reynaldo alias Raden Mas Gandrik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s