Saat Berteduh

Sudah hampir malam namun hujan tak kunjung reda. Aku masih menanti teduhnya hujan dengan berdiri di tritisan sebuah rumah. Sedang asyiknya aku melamun, tiba-tiba lampu di tritisan itu menyala. Pintu sedikit terbuka dan menyembul kepala seorang bapak tua. Aku tersenyum dan dia pun membalas senyumanku.

“Maaf Pak, numpang berteduh, saya lupa membawa mantol di motor saya.” Bapak tua itu keluar dan dengan ramah mempersilahkan aku untuk menunggu saja di dalam. Dengan basa-basi aku menolak tawarannya karena khawatir mengganggu, tapi bapak itu tetap memaksa hingga aku pun menurutinya.

Ruang tamu itu sangat sederhana, hanya ada dua pasang kursi rotan dan meja bertaplak warna biru tua. Tak ada hiasan atau bufet yang penuh dengan souvenir seperti di rumahku. Di samping meja terdapat rak untuk majalah dan koran. Setelah mempersilahkan duduk, bapak itu mengambil beberapa majalah dan memberikannya kepadaku untuk kubaca, karena dia akan masuk dulu ke dalam sebentar Tak ada yang menarik dari isi majalah tua yang terbit puluhan tahun silam. Aku hanya membolak-balik halamannya tanpa ada satu pun rubrik yang kubaca, sampai kudengar langkah bapak itu masuk ke ruang tamu. Dengan membawa nampan berisi dua gelas teh panas, dia tersenyum padaku. “Maaf ya nak, bapak hanya bisa menyuguhkan teh panas untuk

menghangatkan badan.”

“Wah…, Pak. Malah jadi merepotkan Bapak saja,” kataku sungkan.

“Tidak, koq. Bapak tidak merasa repot, jadi jangan sungkan. Ayo, diminum mumpung masih panas,” katanya sambil duduk di depanku.

Setelah kami saling memperkenalkan diri, rasa sungkan perlahan-lahan mulai menipis. Kami mulai masuk dalam pembicaraan seputar kejadian-kejadian yang hangat, dan tak terasa sudah hampir satu jam kami ngobrol. Aku menengok ke luar untuk melihat apakah hujan sudah benar-benar reda, namun ketika aku kembali mengarahkan pandanganku pada tuan rumah, tampak pada wajah tua itu raut kekecewaan.

“Maaf ya Nak, sebenarnya Bapak berharap bahwa hujan masih belum berhenti. Tapi mungkin saja anak dan istrimu sudah menunggu, jadi tidak baik rasanya kalau Bapak menahan kamu.” Kalimat itu diakhiri dengan desahan nafas panjang, yang membuat aku penasaran sekaligus terharu.

“Tidak mengapa, Pak. Saya sudah terbiasa pulang sampai larut malam. Maklumlah Pak, sebagai karyawan kecil saya harus pontang-panting untuk mencukupi kebutuhan. Saya sangat berterimakasih telah diberi kesempatan berteduh, dan saya juga senang bisa ngobrol dengan bapak bahkan sampai mendapat teh hangat segala.”

“Terus terang Nak, bapaklah yang harusnya berterima kasih dengan kehadiranmu. Hari-hari Bapak lalui dalam kesepian, karena bapak hanya tinggal berdua saja, sementara anak-anak semua tinggal di kota lain dan jarang sekali pulang menengok kami orang tua mereka.” Kembali bapak itu menarik nafas panjang dan berhenti sejenak dengan pandangan kosong.

“Tapi sudahlah…, nanti keburu istri dan anakmu khawatir. Mungkin lain waktu bapak harap kamu masih sudi mampir dan ngobrol lagi.” Katanya sambil berdiri, sambil membereskan gelas-gelas yang sudah kosong dan meletakkannya kembali ke atas nampan. Melihat tangannya yang penuh keriput dan sedikit gemetar, aku tidak tega dan buru-buru kumabil nampan itu dari tangannya. “Biar saya saja Pak yang membawanya ke belakang.” Tanpa menanti persetujuannya aku melangkah menuju ke dalam, dan bapak itu mengikutiku dari belakang.

Sebelum sampai dapur aku menengok ke arah kamar, dan kulihat di kamar itu terbaring seorang wanita tua. Rupanya Pak Atmo, nama bapak itu, mengamati apa yang kulakukan. Dia menarik tanganku ke arah pintu kamar, dan memperkenalkan aku pada istrinya. Wanita tua yang rupanya sedang menderita sakit itu menatapku tanpa berbicara apa pun. Aku menganggukkan kepala padanya sambil tersenyum. Wajah wanita tua itu tidak membalas senyumanku, hanya saja pandangan matanya seperti melekat padaku. Perlahan tangannya lemah terangkat dan menggapai-gapai ke arahku.

Aku melangkah masuk dan duduk di samping pembaringannya setelah meletakkan nampan di kursi. Kusalami dia dan kucium punggung tangannya. Telapak tangan kurus kering itu memegang tanganku erat-erat seolah tak ingin melepaskannya. Matanya mulai berkaca-kaca, dan perlahan air mata menetes dari ujung-ujung matanya. Kuambil sapu tangan dari saku dan kuusap air mata itu perlahan-lahan dengan penuh perhatian.

“Maaf ya Nak, Ibu memang selalu begitu. Dia selalu menganggap bahwa yang datang adalah anaknya yang berada di Sumatera.” Pak Atmo berbisik pelan di belakangku. Aku semakin terharu ketika Bu Atmo menarik tanganku dan meletakkan di dadanya lalu memejamkan mata. Bibirnya perlahan-lahan bergerak dan kudengar meski sangat lirih, doa Salam Maria dari mulutnya. Akhirnya kami bertiga di kamar itu tenggelam dalam doa Salam Maria yang terus kami daraskan berulang-ulang, sampai akhirnya tangan Bu Atmo melepaskan tanganku dan dia pun lelap tertidur.

Seperti dikutip dalam Ranting Embun edisi 10 Mei 2009

Oleh : G. Garuda Sukmantoro

www.rantingembun.co.nr

Published by

Richard Reynaldo

Richard Reynaldo alias Raden Mas Gandrik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s