Suatu Hari di Sawah

Aku lari di sepanjang pematang sawah mengejar teman-teman yang telah lebih dahulu melaju. Teriakan ‘wiwit…wiwitan’ itu seperti magnet yang membuat anak-anak di kampungku berlarian menuju sawah. Pagi itu mBok Karto Kliwon mengadakan ‘wiwitan’, sebuah upacara sederhana untuk mengungkapkan syukur dan mohon keselamatan menjelang panen padi. Sesampai di sawah mBok Karto, aku langsung bergabung dengan kerumunan anak-anak yang mengerubungi mBok Karto. Kulihat mBok Karto duduk di pematang mengisi pincuk daun pisang dengan nasi gudangan, seekor gereh pethek (jenis ikan asin), secuil daging ayam, dan potongan pisang. Berulang kali dia berkata “sabaar,…sabaar…, kabeh mesti kebageyan”, namun anak-anak seperti tak memepdulikan dan terus merangsek sambil berseru, “aku..aku…mbok!” Diantara anak-anak itu, badanku paling kecil dan aku datang paling belakangan sehingga harus sabar menunggu hingga yang lain mendapatkan nasi wiwit yang menurut kami teramat sangat sedap. Mereka yang sudah mendapatkan langsung menyingkir, lalu duduk di pematang. Ada yang tanpa cuci tangan langsung melahap nasi pincuk yang dipegangnya, namun ada pula yang mencuci tangan di air sawah. Melihat mereka aku hanya menelan ludah, dan ada sedikit rasa was-was dalam diriku, jangan-jangan aku kehabisan. Akhirnya giliranku tiba, dan apa yang aku khawatirkan benar-benar terjadi. Tenggok nasi itu benar-benar sudah habis, hanya tinggal sedikit sayur gudangan serta tulang-tulang ayam yang ada di dalam baskom. Mbok Karto menatapku, dan timbul rasa kasihan melihat aku menahan kecewa.

Memang aku sangat kecewa, tapi aku malu untuk mengungkapkan kekecewaanku dengan menangis.

“Sabar ya, jangan kuwatir, ini bagianmu…” katanya sambil membuka tenggok kecil yang isinya seporsi nasi gudangan lengkap dengan laukpauknya, bahkan lauknya terbilang lebih istimewa. Aku tahu porsi khusus itu jatah siapa. Porsi istimewa itu adalah sesaji utama yang menjadi jatah ‘sing mbaureksa’ dan biasanya harus diletakkan di pojok sawah.

Mbok Karto mengambil sesaji itu dan menyerahkannya padaku sambil berkata, “Iki nggo kowe, ning… (ini untuk kamu, tapi…)” belum selesai dia berkata, aku sudah menolak takut. “Mboten mBok, kula ajrih (tidak mBok, saya takut)”. Mbok Karto tersenyum, “tidak usah takut…makanlah, tapi nanti ya! Sebelum kamu makan, kamu letakkan dahulu di pojok dekat pohon

pisang itu, lalu kamu berdoa minta ijin untuk kamu makan. Sing Mbaurekso tentu mengijinkannya..!” Aku segera mengangguk, mengambil porsi istimewa itu dari tangan mBok Karto dan berjalan menuju pojok sawah ke arah gerumbul pohon pisang. Pesan mBok Karto kulakukan. Nasi satu tempelangan (bungkus) besar itu kuletakkan sebentar, lalu berdoa. Aku tidak tahu doa apa yang harus aku ucapkan, tapi di sekolah aku diajarkan doa Bapa Kami, maka tanpa ragu-ragu lagi kudoakan Bapa Kami itu untuk minta ijin pada mBaureksa (jin penunggu) untuk makan jatahnya.

Selesai berdoa, nasi kuambil kembali dan aku melangkah mendekati teman-teman lain yang hampir selesai makan. Tiba-tiba dari kejauhan kulihat seorang anak berlari-lari ke arah kami. Yadi ternyata datang pada saat acara wiwit sudah selesai. Sesampai di tempat kami berkumpul dan melihat mBok Karto telah membereskan peralatan, Yadi tampak sangat kecewa. Sekilas dia berpaling ke arahku dan melihat nasi yang ada ditanganku. Aku tahu, anak itu pasti juga ingin mendapatkan nasi wiwit. Biasanya Yadi paling getol kalau soal wiwitan. Menurut dia tidak ada makanan yang lebih enak daripada nasi wiwit.

Mbok Karto berdiri melihat Yadi, lalu berpaling juga ke arahku. Aku tahu apa maksudnya. Meski tanpa berkata sepatah kata pun tapi kode itu berarti aku harus membagi nasi yang ada di tanganku dengan Yadi. Aku tak keberatan, segera Yadi kuajak menuju ke pojok sawah tempat mBaureksa. Di pojok itu Yadi kusuruh jongkok dan berdoa mohon ijin agar Sang mBaureksa juga mengijinkan dia makan jatahnya.

Selesai Yadi berdoa kami duduk bersama di pematang, menikmati seporsi besar nasi wiwit yang lezat. Tak ada kata-kata namun kami saling menatap untuk menceritakan betapa nikmatnya nasi yang kami makan. Jatah jin penunggu sawah sungguh sangat istimewa, pisangnya utuh, daging ayam bagian dhadha potongannya besar, nasinya banyak, sayur gudangannya banyak, dan yang jelas gereh petek-nya bukan hanya satu ekor. Kami makan dengan sangat lahap hingga kekenyangan. Sejak saat itu hubunganku dengan Yadi semakin dekat. Setiap hari kami bermain dan bergurau bersama. Peristiwa itu terjadi puluhan tahun yang lalu ketika aku masih kanak-kanak, dan kini berdiri di depanku seorang pria yang dahulu kukenal bernama Yadi. Anak yang makan nasi wiwit jatah jin penunggu sawah bersamaku. Kami sama sekali tak menduga akan bertemu di sebuah pesta pernikahan. Dia memegang piring penuh dengan makanan, begitu juga dengan aku. Kami saling berhadapan, saling menatap tapi tak ada kata yang terucap. Akhirnya, hampir bersamaan kami mengatakan kalimat yang sama, “Sudah sembahyang belum…?” dan kami tertawa lebar, penuh kebahagiaan.

Seperti dikutip dalam Ranting Embun edisi 14 Juni 2009

Oleh : G. Garuda Sukmantoro

www.rantingembun.co.nr

Published by

Richard Reynaldo

Richard Reynaldo alias Raden Mas Gandrik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s