Yu Tumirah

“Hidup ini memang tidak mudah, tapi apakah dengan mati semua akan menjadi mudah?” pernyataan dan pertanyaan itu terus mengganggu diriku selama aku dirawat di rumah sakit. “Pernyataan bahwa hidup ini tidak mudah” memang baru kali ini terlintas dalam benakku. Selama ini aku menganggap bahwa semua bisa dilakukan dengan mudah. bahwa dengan kekayaan yang aku warisi dari orang tua maka tak ada lagi persoalan hidup yang berarti. Aku mempunyai modal untuk membuka usaha, bahkan aku sudah mendapat warisan usaha berupa toko kelontong yang ramai dengan pembeli. Pendapatanku dari toko itu bisa dua kali lipat gaji seorang pegawai negeri. Sementara aku masih muda dan belum berkeluarga. Sebagai orang muda kaya, saat itu hidupku mengikuti perkembangan jaman. Segala apa yang ditawarkan, aku berusaha untuk bisa mendapatkan. gaya hidup modern yang kubaca dari majalah atau dari pergaulan, berusaha untuk dapat kuikuti. Sampai aku tenggelam dalam dunia narkoba. Aku menjadi ‘pemakai’ yang tak kentara.

Hari itu aku harus membayar tagihan barang dagangan yang jatuh tempo, namun betapa terkejutnya aku ketika mengetahui bahwa kas kosong melompong. Sementara sebagian besar tabunganku sudah kupercayakan pada seorang teman untuk bermain di forex trading. Lebih terkejut lagi ketika aku menyadari bahwa untuk bulan ini aku harus mengeluarkan uang ratusan juta guna membayar tagihan yang jatuh tempo dan beberapa tunggakan yang selama ini tidak kuperhitungkan karena tenggang waktunya yang lama. Baru kali itulah aku memutar otak untuk mendapatkan uang. Selama dua minggu semua berusaha aku bereskan menggunakan uang kredit dengan meng-agunkan mobil dan sertifikat tanah toko. Aku berharap uang yang diputar oleh temanku segera menampakkan hasil, dan bisa kugunakan untuk menutup dan mengambil kembali aset yang aku agunkan.

Namun sampai tiga bulan kemudian, apa yang kuharapkan itu tidak ad kabar beritanya. Temanku yang selama ini aku percaya bahkan lari entah kemana. Mulailah persoalan demi persoalan mendera kehidupanku. Hampir setiap hari aku harus berurusan dengan debt collector alias penagih huatang. Hampir setiap hari aku mendapat muka masam dari supllier yang pembayarannya kutunda karena pemasukan yang ada telah kugunakan untuk berbagai kebutuhan, terutama membeli narkoba. Akhirnya aku lari pada saudara-saudara untuk mohon bantuan. Ya, saudara-saudara yang selama ini aku tidak pernah aku sapa, tak pernah aku pedulikan semenjak kematian kedua orangtuaku mulai satu per satu

kudatangi. Namun bukan bantuan yang aku dapatkan, melainkan cibiran. Aku jatuh sakit karena beban persoalan yang semakin tak dapat kutanggung. Tak ada saudara yang datang menengok, takada seorangpun teman yang berkunjung, menyatakan empati. Aku benar-benar jatuh dalam kesendirian.

Hanya Yu Tumirah yang masih setia dan terus menungguiku di rumah sakit. Yu Tumirah pula yang menjalankan toko, setelah semua karyawan kuberhentikan. Yu Tumirah yang menjadi demikian sibuk untuk menyelamatkan kehidupanku. Yu Tumirah…ya, hanya Yu Tumirah. Perempuan paruh baya yang menjadi pembantuku, dan selama hidup ikut orangtuaku.

Suatu malam setelah tutup toko, Yu Tumirah datang menunggui aku. Dia tidak banyak bicara, tetapi hanya memandang dan mengusap-usap kakiku. Tapi tak lama kemudian kulihat dia mengusap matanya dengan punggung tangan. Ketika kutanyakan padanya, ada apa? Dia bercerita bahwa tadi siang datang petugas dari bank yang menyampaikan surat penyitaan tanah toko. Sebenarnya petugas itu telah datang tiga minggu yang lalu, namun dia tak berani bercerita kepadaku karena keadaanku. Dia takut sakitku semakin parah. maka surat-surat pemberitahuan itu dia sembunyikan. Aku tak bisa berpikir, aku tak tahu harus berbuat apa. Memang keadaanku beberapa minggu ini semakin membaik dan mungkin minggu depan aku boleh pulang. Namun biaya yang telah kuhabiskan untuk biaya rumah sakit pun tidak sedikit, belum lagi biaya untuk melunasinya jika aku mau pulang nanti.

Tengah malam aku terbangun. Kulihat Yu Tum duduk tidak jauh dari pembaringanku sambil menunduk, di tangannya kulihat rosario. Yu Tum sedang berdoa, hal yang sangat langka aku saksikan. Selama ini memang aku tahu bahwa Yu Tum beragama Katolik dan setiap Minggu minta ke gereja, namun aku tidak pernah tahu bahwa dia rajin berdoa. Hampir satu jam Yu Tum berdoa. Setelah selesai dia duduk di pembaringanku, begitu melihat aku terbangun.

“Yu Tum, tadi Yu Tum berdoa apa?”

“Saya berdoa untuk mase (demikian dia selalu memanggilku). Saya berharap Gusti memberikan jalan untuk semua yang membebani hidup mase.”

Yu Tum berhenti sejenak, matanya jauh menatap tembok putih rumah sakit. Setelah menghela nafas panjang dia berkata pelan, “Mase, hidup ini sungguh

tidak mudah. Tapi kalau Mase tidak ada, apakah semua akan menjadi mudah?

Saya berdoa untuk memohonkan pengampunan bagi Mase.”

Aku hanya bisa tertegun dan menatapnya. Yu Tum adalah warisan dari orangtuaku yang masih aku miliki, yang tahu persis untuk apa dia diutus.

Seperti dikutip dalam Ranting Embun edisi 7 Juni 2009

Oleh : G. Garuda Sukmantoro

www.rantingembun.co.nr

Published by

Richard Reynaldo

Richard Reynaldo alias Raden Mas Gandrik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s