Dimana Kami Bersimpuh

Setiap kali aku pulang ke rumah, ruangan kecil di dekat ruang makan itu selalu mengingatkan seluruh peristiwa yang pernah aku alami. Di ruangan itu aku merekan semua jejak persoalan hidupku sejak aku masih kecil. Setelah pensiun, Kakek mengubah ruang kerjanya menjadi ruang doa. Sejak saat itu, ruang yang dulunya penuh dengan buku-buku dan berkasberkas pekerjaan menjadi ruangan kosong yang hanya berisi satu meja pendek dengan salib, patung Bunda Maria dan Yesus di atasnya. Kata ayah, setiap kali dia berbuat kesalahan, maka Kakek menghukum beliau dengan duduk, berdoa, dan menyesali seluruh kesalahannya di ruangan itu. Dahulu, ruangan itu adalah ruangan yang paling dibenci oleh Ayah dan saudara-saudaranya. Namun lama kelamaan perasaan benci itu hilang. Setelah kakek meninggal dunia, ayah sering berlama-lama duduk di ruangan itu. Ketika persoalan demi persoalan mendera kehidupan keluarga Ayah, di sanalah mereka berkumpul untuk berdoa bersama. Kadang kadang ayah masih merasakan bahwa sepertinya kakek hadir dan ikut berdoa bersama mereka. Dinding-dinding ruangan itu menyimpan berbagai cerita kehidupan keluarga Marto Harjono. Ayah meninggal sepuluh tahun lalu, dan rumah ini menjadi rumah warisan untukku. Saat itu aku sudah memiliki rumah sendiri, tapi entah kenapa, seperti ada sesuatu yang mendorong aku untuk pindah dan kembali ke rumah lama. Ketika hal itu kuutarakan pada istri dan anak-anakku, mereka serempak menolak, dengan alasan rumah itu terlalu jauh dari mana-mana. Jauh dari pusat keramaian, jauh dari sekolahan, jauh dari pasar, dan jauh dari tetangga. Suatu saat aku sakit, dan membutuhkan tempat yang tenang agar proses penyembuhan dapat berjalan dengan cepat. Tak ada pilihan lain bagi istriku. Satu-satunya tempat yang memungkinkan adalah rumah lama. Maka kami pun untuk sementara pindah ke rumah lama.

 

Satu minggu pertama kami tinggal di rumah lama, suasana keluargaku berubah sekali. Tak ada gurauan, tak ada canda dan pertengkaran yang dahulu selalu meramaikan rumah kami. Rumah besar ini menjadi terlalus epi, terlalu sunyi. Istriku pun jarang berbicara, anak-anak berubah menjadi pendiam. Mbok Yem, pembantu rumah kusuruh membersihkan ruang doa dari debu. Malam harinya, aku mulai menempati ruang itu untuk duduk dan bersimpuh. Satu per satu ingatan masa kecil hadir, ingatan akan tempat ini, ingatan akan Kakek, akan ayah, akan kakak-kakak. Kami semua selalu bersimpuh di sini untuk menyalakan lilin dan mengungkapkan persoalan kami pada Tuhan. Persoalanku saat ini pun perlahan kuungkap padaNya. Setiap malam, aku berada di ruang ini sendiri bahkan kadang aku tertidur di ruang doa ini. Rumah ini menjadi semakin sunyi, malam demi malam berlalu tanpa ada suara. Anak-anak lebih banyak di dalam kamar, istriku pun lebih banyak membaca di ruang tamu.

Suatu pagi aku baru pulang dari jalan-jalan terkejut ketika melintasi kamar doa. Istri dan anak-anaku berimpuh di dalam ruangan itu. Lilin menyala dan kudengar mereka berdoa dengan khusuk. Perlahan aku masuk dan ikut bergabung di belakang mereka. beberapa menit kemudian doa pun selesai. Istriku berpaling kepadaku, dan berkata:” Pa, hari ini anak-anak akan ujian. Mereka berdoa untuk itu dan mereka pun berjanji akan lebih rajin berdoa di sini, ikut berdoa untuk kesembuhan Papa.” Aku memandang wajah anak-anakku satu persatu. Bibir mereka tersenyum, dan dari tatapan mereka aku tahu mereka ingin mengngkapkan cinta mereka kepadaku. Keharuan memenuhi benakku, dan mereka pun kupeluk lalu kumohonkan berkat bagi mereka. Malam-malam selanjutnya kami sering berkumpul di ruangan kecil ini. Satu per satu persaoalan anak-anak terungkap dan kami bahas bersama sebelum kami tutup dengan doa persembahan keluarga pada Bapa. Ketika aku benar-benar dinyatakan sembuh dan memang aku sendiri merasakan bahwa aku telah pulih seperti dahulu lagi, kutawarkan pada istriku untuk kembali ke rumah kami. Namun istri dan anak-anakku serempak menggelengkan kepala. Mereka memilih untuk tinggal di rumah tua ini. Ketika aku bertanya pada mereka, mengapa mereka memilih untuk tetap tinggal di rumah ini, merka tidak menjawab namun hanya mengalihkan pandangan pada ruangan kecil di samping ruang makan. Ruang di mana kami yakini Bunda Maria, Yesus dan Allah Bapa senantiasa hadir diantara kami, ketika kami bersimpuh di sana. Akhirnya rumah kami sendiri kami kontrakkan dan kami lebih memilih menetap di rumah tua ini, rumah yang mampu bercerita banyak hal kepada kami, khususnya cerita-cerita yang terekam di salah satu ruangan kecilnya. Ketika aku datang di acara pendalam Iman lingkungan, aku mendapat kesempatan untuk sharing. Kuceritakan kembali ruang kecil di samping ruang makan itu kepada semua yang hadir. Saat acara selesai dan aku hendak pulang, seorang bapak mendekatiku lalu berkata, “Terima kasih, Pak. Saya juga akan membuat ruang doa di rumah saya. Saya berharap apa yang terjadi pada keluarga Bapak juga akan terjadi pada keluarga saya yang saat ini berantakan.” Aku tersenyum dan mengangguk, dalam hati aku pun berharap semua rumah di lingkungan ini memiliki satu ruangan kecil untuk bersimpuh dan mengungkapkan persoalan hidupnya pada Tuhan. Sampai di depan rumah, aku tersenyum bangga ketika melihat istriku membukakan pintu bagiku.

 

Dikutip dari Ranting Embun, oleh Bp. Garuda Sukmantoro

www.rantingembun.co.nr

Published by

Richard Reynaldo

Richard Reynaldo alias Raden Mas Gandrik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s