Filosofi ‘Pincuk’ Daun Pisang

Jalan-jalan pagi hari membuat perut merasa lapar. Akhirnya perut gembulku ini tidak bisa kompromi lagi dan membuatku bertemu dengan ‘bakul jenang sumsum’ (penjual bubur sumsum) Pertemuan dengan bakul jenang yang ternyata membuatku bisa memberikan makna hidup ini. Sejenak aku perhatikan beberapa pembeli yang membeli jenang sambil menunggu giliranku. Aku perhatikan bagaimana dia membuat pincuk, piring sementara untuk menikmati jenang sumsum itu.

Brongkos OLYMPUS DIGITAL CAMERA         pincuk-suru1

Pincuk terbuat dari lembaran daun pisang, lembaran yang menyiratkan kita selalu memulai dengan lembaran baru. Daun pisang, daun yang sangat murah dan dapat diperoleh, seperti niat baik kita yang harus dengan murah dan mudah diproduksi dalam hati kita. Lembaran daun pisang itu kemudian dibentuk, ini seperti mengingatkanku bahwa niat baik kita juga harus dengan mudah dibentuk dan disesuaikan dengan situasi. Proses ketiga yaitu lembaran yang sudah dibentuk itu ditusuk dan dikunci dengan ‘biting’ atau lidi yang tajam, ini menggambarkan bahwa niat baik kita harus dimantabkan dengan usaha keras, pemikiran yang tajam, seksama, hati-hati dan tegas. Kemudian pincuk itu dituangkan bubur sumsum yang panas dengan kuah gulanya yang panas pula. Namun pincuk itu tahan panas, ini mengingatkanku bahwa kita juga harus tahan terhadap segala ganjalan, halangan, dan kesulitan yang kita hadapi. Untuk menikmati bubur itu kita memerlukan sendok, untuk itulah kita menyobek daun pincuk itu dan dilipatkan untuk menyendok makanan tersebut, ini mengingatkanku bahwa niat, usaha, masih belum cukup untuk mewujudkan semuanya, butuh pengorbanan dari diri kita untuk mewujudkannya. Posisi telapak tangan dalam memegang pincuk, telapak tangan kita harus melindungi pincuk agar tidak tumpah, seperti sikap kita dalam menghadapi permasalahan dengan nrimo. Bentuk pincuk yang terbuka pada satu sisinya dan tertutup pada sisi lainnya mengingatkanku untuk selalu terbuka untuk segala ilmu dan ditutup untuk segala pengaruh buruk. Pincuk juga langsung dibuang oleh pemakannya ketika sudah selesai, dan ini memberikan pelajaran bagiku siapkah aku untuk dilupakan ketika semuanya telah selesai.

Pincuk bagiku telah memberikan pelajaran kehidupan bagiku. Siapkah aku menjadi pincuk-pincuk itu bagi orang lain. Termasuk untuk pasanganku sendiri? Ah…semoga aku mau dan mampu untuk menjadi ‘pincuk” bagi pasangan dan sesamaku. Matur nuwun untuk simbah bakul jenang.


Bookmark and Share

Published by

Richard Reynaldo

Richard Reynaldo alias Raden Mas Gandrik

11 thoughts on “Filosofi ‘Pincuk’ Daun Pisang”

    1. Nuwun mas Enigma….
      maklum masih newbie…masih meraba-raba nih….mohon masukannya…aku link ke blog nya mas enigma ya…..

  1. Walaupun dari hal – hal kecil seperti pincuk, tetapi anda bisa melihat secara keseluruhan akan arti hidup yang sesungguhnya. sungguh Anda mempunyai hikmat yang dalam.
    Semoga Tuhan Yesus memberkati Anda selalu.

  2. makasih ya mas Dudi…
    besok-besok ada kok filosofi tempe dan tahu nya…..semoga bisa ASAP di publish….salam kenal buat mas Dudi

  3. bau harum daun pisang yg terlepas ketika tersentuh panasnya makanan dan menyatu dengan aroma kuliner itu memang mantab..

    tiada yg senikmat itu..😀

  4. thanks mas ilalang, udah aku lihat blog mas ilalang yang oke punya, thanks tulisanku udah di share disana…..aku add link mas ilalang di blog ini ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s