Belajar dari Tempe

del.icio.us Tags: ,

Tempe, semua orang tahu akan tempe, makanan dari kedelai yang sangat enak untuk diolah dengan metode apapun. Tempe sudah jadi makanan favoritku, namun siapa sangka, ternyata akupun mendapat pelajaran berharga dari sebuah tempe. Luar Biasa !!!

Cerita ini bermula ketika aku pulang kampung disela-sela kesibukan bekerja di Jakarta. Sesampainya di rumah, aku sudah pesan sama ibu untuk memasakkan masakan favoritku, “oseng-oseng tempe ndok dadar”. Sepanjang perjalanan dari bandara sampai rumah aku sudah membayangkan bakalan terhidang “oseng-oseng tempe ndok dadar” lengkap dengan krupuk dan beberapa ornamen masakan lainnya dan makan ditemani oleh wejangan dari ibu, namun apa daya setelah sampai dirumah aku hanya menemukan ayam goreng dan jangan lodeh (sayur lodeh). Akupun bertanya, “Mah, oseng-osengnya gimana?kok belum ada?” dan Ibu pun menjawab, “Wah durung ono tempene le, ayo nang mbah Kirno tempe, tumbas tempe.” (Wah belum ada nak, ayo kita beli saja di tempat Mbah Kirno tempe) setelah itu aku dan Ibu pun berjalan ke rumah mbah Kirno tempe, namanya sebenarnya Kirno saja, namun karena ada dua orang Kirno di kampung maka disebut Kirno Tempe karena beliau adalah penjual tempe dan seorang lagi adalah Kirno Sapi, karena yang satunya adalah Mbah Kirno penjual daging sapi di pasar.

Akhirnya sampai juga di rumah mbah Kirno, rumah sang penjual tempe. “mbah Kirno, pripun kabaripun?sehat to mbah?” Tanyaku sambil melihat tangan keriputnya sedang mbuntel (membungkus) tempe. Jawab mbah Kirno cepat, “Oalah le, wis dadi wong kutho, dadine lali karo simbah sing mung dodolan tempe. Simbah sehat le. Tempe dingo olah-olah oseng-oseng to” (Oalah nak, sudah jadi orang kota ya?jadinya lupa sama nenek, nenek sehat kok, tempe buat oseng-oseng khan). Sejenak kami larut dalam obrolan dan petuah bijak dari mbah Kirno. Ibu kemudian juga menyahut “Sedoso ewu kemawon mbah.”(sepuluh ribu rupiah saja), sambil menunggu pesanan, rasa ingin tahuku membuatku ingin masuk dan melihat membuat tempe. Tiba-tiba mbah Kirno bertanya pertanyaan aneh kepadaku, “Le, kowe gelem dadi tempe?” (Kamu mau jadi tempe) aku pun diam karena tidak paham sambil melihat bagaimana tempe itu dibuat. Kemudian mbah Kirno berkata, “Didelok piye carane tempe digawe.”(Dilihat bagaimana tempe itu dibuat)

Setelah aku melihat-lihat proses pembuatannya, aku jadi kagum dengan tempe. Aku jadi membayangkan jika aku adalah kedelai itu. Kedelai adalah bahan yang murah dan dapat diperoleh dimana saja, setelah itu kedelai dikupas kulitnya dan direbus dengan suhu tinggi, aku membayangkan betapa kesakitannya kedelai itu. Kemudian kedelai itu direndam dalam air bekas rebusannya sendiri, dan setelah itu direndam dalam air dingin, kemudian diberi ragi dan didiamkan lagi, kemudian dibungkus dalam daun pisang, dijual, dimasak dan menjadi masakan yang enak. Kedelai itu pasti mengalami kesakitan yang mendalam hanya untuk membuat penjualnya bahagia, dan yang memakan juga bahagia karena memakan tempe yang nikmat.

Kedelai yang murah dan mudah didapat, mengingatkan akan mudahnya kita mempunyai niat baik. Kedelai yang direbus, di rendam dalam air panas dan dingin memberikan makna penderitaan yang amat sangat, setelah itu kedelai yang mengembang mengingatkanku bahwa segala penderitaan dan percobaan akan membuat kita semakin besar, dewasa dan berkembang. Kedelai yang telah mengembang kemudian siap diberi ragi, artinya setelah kita kenyang akan cobaan kita menjadi lebih bijak, dan dibungkus dalam kesederhanaan, sama sederhananya dengan daun pisang sebagai pembungkusnya. Kita sudah siap menjadi tempe, namun ternyata tempe itu dijual, dan membahagiakan penjualnya karena mendapatkan uang. Tempe diolah lagi menjadi makanan lezat dan yang memakannya menjadi bahagia karena kelezatannya. Artinya setelah kita menderita dan menerima cobaan itu semua ternyata bukan untuk kita, namun untuk orang lain.

Sejenak aku kaget ketika Ibu berkata, “Ayo pulang, tak masakke oseng-oseng tempe.” (Mari kita pulang nak, Ibu masakkan oseng-oseng tempe). Di perjalanan ternyata Ibu menerangkan pentingnya tempe, dan di akhir pertanyaannya, ibu bertanya sama persis dengan mbah Kirno “Le, kowe gelem dadi tempe?”. Aku terdiam.

Tempe, yang hanya menderita, menerima cobaan, yang akhirnya menjadi dewasa, dan membahagiakan orang lain. Siapkah kita menjadi tempe? Yang siap menderita, menerima cobaan yang membuat kita berkembang dan dewasa, dan semuanya itu kita persembahkan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai dan sayangi. “Mas, Mbak, penjenengan gelem dadi tempe?”

Published by

Richard Reynaldo

Richard Reynaldo alias Raden Mas Gandrik

3 thoughts on “Belajar dari Tempe”

  1. matur nuwun mas…..salam kenal….tukeran link ya?apik blognya, menjawab permasalahan digital yang aku masih kagok banget….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s