Cerita Mesin Tik Tua

Mama dan Papa menjual motel yang selama ini menjadi sumber mata pencarian keluarga kami, karena penghasilan dari motel itu tidak bisa mencukupi biaya pendidikan yang kami butuhkan. Beberapa waktu setelah menjual motel itu, Mama pulang kerumah dengan membawa sebuah mesin tik tua. Tulisan hurufnya sudah banyak yang hilang dan modelnya sangat klasik. "Hanya ini yang dapat Mama beli, supaya Mama dapat belajar mengetik dan setelah itu mencari pekerjaan yang baik," kata Mama setelah makan malam. Sejak malam itu Mama belajar mengetik dan bunyi mesin tik yang lambat selalu terdengar sampai tengah malam.

Suatu malam, Mama berusaha meyakinkan Papa bahwa ada pekerjaan yang baik baginya disebuah pemancar radio. Papa mendukung keputusan Mama itu. Senin pagi dengan penuh semangat Mama pergi kekantor radio tersebut dan bekerja sebagai juru ketik. Sore hari, Mama pulang dengan wajah murung, karena dihari pertama bekerja, Mama sudah menerima banyak kritikan tentang hasil kerjanya. Orang-orang dikantornya mengatakan bahwa kehadiran Mama membuat mereka bekerja dua kali lebih berat. Mama tidak menyerah dengan keadaan itu, ia menyemangati dirinya untuk terus belajar mengetik.

Suatu malam ketika saya pulang dari rumah teman, saya melihat ada cahaya redup disudut ruang tamu. Saya pikir Mama sedang belajar mengetik disana. Saya mendekat dan melihat Mama sedang menangis. Baru kali itu saya melihat wanita setegar Mama menangis. Saya memeluk Mama dan Mama tidak dapat menahan gejolak emosinya, ia menangis terisak-isak. Mama memutuskan untuk keluar dari kantor itu setelah mencoba bertahan bekerja selama seminggu. Saya menghapus air mata dipipi Mama dan memeluknya lebih erat lagi.

Dua tahun kemudian, ketika saya masuk ke sebuah akademi, Mama melamar kerja di sebuah kantor koran. Mama diterima bekerja disana sehingga dapat membayar biaya kuliah saya. Mama memang tidak pernah menyerah pada kegagalan dan dia membuktikan kegigihannya itu. Setelah lulus, saya mengikuti jejak Mama, yaitu bekerja sebagai reporter.

Di ulang tahun Mama yang ke enam puluh dua, ia memelukku dan berpesan, "Jangan pernah menunda memeluk seseorang saat engkau ingin memeluknya, karena mungkin engkau tidak memiliki kesempatan lagi. Mama akan memberi mesin tik usang itu sebagai hadiah di hari ulang tahunmu nanti dengan syarat, tidak boleh diperbaiki." Mesin tik tua itu menjadi saksi kegigihan Mama. Mesin tik tua itu menjadi pengingat bagi kami bahwa ketika permasalah datang, jangan pernah berpikir untuk menyerah atau mengasihani diri sendiri. Berjuanglah dengan gigih sampai memetik hasil yang memuaskan.

Tak ada kata-kata menyerah bagi mereka yang mau berhasil, yang ada hanya keinginan untuk berjuang dan tidak pernah berhenti mencoba, sampai keberhasilan menjadi miliknya.

By. NN

Published by

Richard Reynaldo

Richard Reynaldo alias Raden Mas Gandrik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s