Think Green, Act Green, Go Green

image Sebuah paper Al Gore mengenai pemanasan global yang menjadi isu dunia, ditambah dengan film 2012 yang cukup booming di seluruh dunia. Berbagai ide dan konsep digambarkan untuk mengetahui situasi dunia pada 2012. Pada akhirnya para pemimpin dunia sepakat untuk bertemu di Kopenhagen untuk membahas masalah ini, walaupun hasilnya masih disambut dingin oleh berbagai negara.

Melihat judul diatas, saya jadi ingat ketika seorang sahabat memberikan pandangannya pada sebuah milis ditempat saya kuliah dulu. Beliau memberikan sebuah diskusi yang kemudian disambut dengan hangat oleh para sahabat lainnya. Email itu mempertanyakan bagaimana seharusnya warna arsitektur kita (baca:anggota milis) dengan berbagai pemikiran dan dibekali bagaimana arsitektur itu harus terwujud. Konsep arsitektur hijau yang melekat dalam pemikiran orang-orang adalah pemakaian barang bekas, minim AC, dan banyak bukaan dan lainnya. Hal itu memang benar, bahwa bagaimana sebuah bangunan dapat "berinteraksi" dengan alam itulah yang dinamakan bangunan hijau.

Mengingat pendapat diatas, saya jadi ingat perkataan mentor saya waktu kuliah. Ketika itu, beliau menanyakan bahwa sebuah bangunan itu tidak dapat berinteraksi dengan alam secara langsung, namun yang membuat sebuah karya itu menjadi hidup adalah bagaimana bangunan itu mampu mewadahi aktivitas didalamnya dalam berinteraksi dengan alam (baca :lingkungan sekitar/binaan). Bangunan sebagai sebuah karya arsitektur membentuk karakter manusia yang diwadahinya. Orang yang tinggal di bantaran sungai bagian hilir dengan orang yang tinggal di bantaran sungai bagian hulu berbeda, begitu juga dengan orang yang tinggal di rumah villa di pegunungan dengan rumah villa di daerah pantai. Perilaku pekerja di daerah CBD berbeda dengan perilaku pekerja di kawasan niaga biasa.

Kata "Think Green", menurut saya sangat tepat digunakan sebelum kita berbicara lebih jauh mengenai go green ataupun green architecture. Istilah ini saya dengar pertama kali dari John Kelly, seorang arsitek dan interior and furniture designer dari negeri Paman Sam ketika kami bertemu dalam sebuah acara. Think, Do, and Act green before you decide to walk in green architecture path. Green is creating maximum effect from minimum material and green is teaching others to take care the world. Ungkapan sederhana namun sangat tepat dan "sedikit" menyindir saya sebagai orang Indonesia. Setelah saya pikir-pikir lebih dalam, benar juga ucapan dari Mr. John itu, kita tidak akan menghasilkan sebuah karya yang hijau jika kita sendiri tidak berpikir hijau dan bertindak hijau. Arsitektur sebagai sebuah proses kreatif juga membutuhkan pikiran dalam mencipta.

***

Pulang bekerja dengan jalan kaki, melihat semrawutnya ibukota. Pikiran saya sedikit terhibur dengan adanya opera angkot di jalan, sopir angkot dengan ‘pede’ nya menghentikan angkotnya di tengah jalan dan memanggil penjual minuman kemasan gelas. Sopir angkot tersebut minum dengan nyaman ditengah jalan diiringi suara klakson dan umpatan dari pengemudi di belakangnya, dengan ‘pede’ nya lagi kemudian membuang bungkus minuman tersebut seenaknya di jalan dan kembali mengemudikan angkotnya lagi.

Tawa kecil dan kembali memikirkan ungkapan Mr. John Kelly bahwa hijau adalah bagaimana kita mengajarkan untuk menjaga bumi ini terbantahkan dengan telak melihat pemandangan itu. Keesokan harinya pada hari libur saya pergi memutuskan untuk pergi ke pasar swalayan untuk berbelanja kebutuhan bulanan, betapa kagetnya lagi ketika ada seorang eksekutif muda dengan ‘pede’ nya merokok dalam ruangan ber AC. Hebatnya Indonesia.

Berpikir hijau menjadi sebuah hal yang masih sulit dilakukan oleh masyarakat Indonesia, setidaknya berkaca dari dua kasus diatas. Masyarakat kita masih boros dalam penggunaan energi, seperti menghidupkan lampu dan AC ketika orangnya sedang pergi, dengan alas an biar tetap dingin, menyalakan air sampai bak air membludag oleh air, malas untuk berjalan kaki walaupun untuk jarak yang kurang dari 500 meter.

***

Saya jadi teringat lagi ketika mengunjungi Singapura, negeri yang luasnya tidak lebih dari propinsi DIY, namun situasinya tidak kalah dengan negara maju lainnya. Singapura setara dengan Tokyo, dan kota-kota besar di Eropa pada umumnya.Masyarakat terbiasa untuk berjalan kaki, membawa air mineral dimana-mana, terbiasa memisahkan sampah organic dan anorganic dan juga mereka terbiasa menggunakan angkutan umum, stasuin yang terintegrasi antara bus, MRT, dan pusat perbelanjaan membuat titik keramaian dapat disebar, perilaku masyarakat juga sangat tertib dengan adanya “tarif” denda kesalahan yang kita perbuat. Setelah melihat ini saya jadi mengambil kesimpulan bahwa ternyata inilah yang membuat Singapura sudah siap menerapkan konsep hijau dalam perkembangannya menuju era global dibandingkan dengan Indonesia yang masih sebatas konsep. Ah, membuat saya jadi teringat lagi ucapan Mr. John, berikir dulu, bertindak, dan kemudian berarsitektur. Ah, mirip istilah ISO saja…..ada-ada saja.

Gambar diambil dari http://static-p4.fotolia.com

Technorati Tags: ,,

Published by

Richard Reynaldo

Richard Reynaldo alias Raden Mas Gandrik

2 thoughts on “Think Green, Act Green, Go Green”

  1. UHhh…go green ni yeee??? Nanti tas kresek harus bayar, trus plastik2 harus direcycle trus nanti orang2 yg korupsi di cuci ulang aja tuh biar bersih.. hehe…

  2. Green Architecture mungkin sudah mulai nampak di Indonesia ini. Banyak konsep-konsep untuk bangunan baru adalah “Green” dengan berbagai konsekuensinya yang masih dapat diterima. Namun, yang penting juga adalah setiap orang harus mulai untuk menjalankan “Green Life”. Sadar bahwa lingkungan itu menjadi seperti ini karena manusia dan harus diperbaiki secepatnya…

    Selamatkan Bumi!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s