Sepotong Kue Terakhir dari Pakdhe Yono

Pray Edit Share.jpeg Pakdhe Yono bekerja pada seorang juragan besi yang kaya raya di desa sebelah. Tiap hari Pakdhe Yono harus berjalan sangat jauh dari desanya menuju tempat kerjanya dan itu dilakukan selama puluhan tahun.

Pagi itu setelah berpamitan dengan istrinya dengan senyum yang mengembang Pakdhe Yono berangkat untuk pergi ke tempat bekerja. “Bu, aku berangkat dulu ya? Anak-anak jangan lupa untuk dibangunkan dan diajak mandi biar nanti tidak terlambat untuk sekolah.” Istrinya mencium tangan Pakdhe Yono yang sudah kasar karena bekerja sebagai tanda pengabdian seorang istri kepada suami dan dengan senyum khasnya dia pun melepas kepergian suaminya sampai pagar depan rumah.

 

Dalam perjalanan, Pakdhe Yono selalu bergembira dan mengucap syukur atas hari yang akan dia lewati. Perjalanannya melewati hamparan sawah nan hijau dan beberapa orang yang lalu lalang dan saling menyapa. Ah, betapa indahnya kehidupan dalam kesederhanaan ini. Sesampainya di workshop, Mbah Mitro, juragan besi telah menyambutnya dengan sukacita. Memang, hubungan antara Mbah Mitro dengan Pakdhe Yono sudah sangat akrab dan seperti keluarga sendiri.

Seharian bekerja, dan matahari seakan kembali ke peraduannya, Mbah Mitro pun telah menyiapkan secangkir teh hangat dan sepiring telo rebus untuk Pakdhe Yono. Sambil bercerita ngalor ngidul akhirnya Pakdhe Yono pamit pulang. “Sebentar dek Yono, aku ada sesuatu untukmu.” Mbah Mitro sambil berlari kecil masuk ke dalam rumahnya dan tak lama kemudian dia keluar dengan menenteng satu bungkus besek besar. “Dik Yono, ini ada roti, enak banget. nanti dimakan bareng keluarga ya? sudah aku potong jadi 5 bagian yang besar.” Sambil mengucapkan terima kasih Pakdhe Yono pun beranjak pergi, dalam pikirannya sudah ada bayangan anak istrinya akan sangat bergembira ketika menyantap roti yang besar tersebut. Kegembiraan hati Pakdhe Yono membuat lelah badannya menjadi hilang, sambil mengucap syukur atas rejeki hari ini, Pakdhe Yono beranjak pulang.

Keluar dari batas desa, Pakdhe Yono bertemu dengan seorang pengemis yang sedang memegangi perutnya karena kelaparan dan terus meronta. “Pak, tolong saya, saya belum makan dalam 3 hari terakhir, perut saya lapar dan tidak bisa bekerja, kasihani saya pak.” Hati Pakdhe Yono sedikit ada gejolak antara membagi roti itu atau meninggalkan pengemis itu. Akhirnya Pakdhe Yono memberikan potongan pertama kepada pengemis itu. Pengemis itu makan dengan lahap dan mengucapkan terima kasih kepada Pakdhe Yono. “Maaf ya pak, saya hanya bisa memberi sepotong pertama dari roti ini karena sisanya akan saya bagikan di keluarga saya di rumah. Mereka belum pernah makan roti yang seenak ini.” kata Pakdhe Yono untuk memberikan pengertian kepada pengemis itu. Akhirnya Pakdhe Yono melanjutkan perjalanannya.

Dua kilometer setelahnya dia bertemu dengan nenek tua yang sedang akan keluar rumah untuk mencari ubi untuk dimakan. Karena merasa iba dan khawatir akan keadaan nenek tersebut, Pakdhe Yono memberikan sepotong roti itu untuk nenek. “Nek, roti ini enak sekali, nenek tidak usah keluar rumah untuk mencari ubi karena hari sudah malam. Makanlah roti ini nek.” Nenek tua itu pun menyahut dengan ucapan penuh sayang, “Hati-hati di jalan nak, berkat Tuhan akan menyertaimu.” Pakdhe Yono pun melanjutkan perjalanannya.

Tak jauh dari tempat nenek tersebut ada sebuah tanah lapang dan anak-anak kecil sedang bermain dibawah sinar bulan purnama. Pakdhe Yono berhenti sejenak untuk melepas lelah sambil memandangi anak-anak tersebut dengan muka berseri-seri dan bahagia. Diambilnya sepotong roti itu dan memberikannya kepada anak-anak tersebut. Sambil membelai rambut anak kecil tersebut Pakdhe Yono berkata “Thole, makan roti ini biar kalian bisa bermain lagi dibawah bulan yang indah ini. Kalian harus bersyukur karena Tuhan memberikan bulan yang terang malam hari ini.” Dan Pakdhe Yono pun melanjutkan perjalanan pulang.

Pakdhe Yono melihat besek bambu itu dan melihat rotinya tinggal dua potong besar dan semakin mantab dia pulang ke rumah. Malang tidak bisa dihindari, ketika pintu perbatasan desanya sudah terlihat, Pakdhe Yono dicegat oleh seorang perompak yang mengalungkan pedangnya di leher Pakdhe Yono, “Harta atau nyawa?” hardik perompak tersebut. Sambil tangan dan kaki bergetar karena ketakutan Pakdhe Yono menjawab, “Ampun pak, saya tidak punya uang lagi, yang saya punya hanya dua potong roti yang diberi oleh juragan saya, jika tuan berkenan, tuan bisa ambil semuanya.” mendapati korbannya tidak punya harta, daripada pulang dengan tangan kosong akhirnya perompak tersebut hanya mengambil sepotong roti dari Pakdhe Yono dan membebaskannya.

Dalam keaadan hati dan badan yang lemas karena ketakutan, Pakdhe Yono membawa potongan kue terakhir itu ke rumahnya dan sudah disambut oleh istri dan anak-anaknya. Setelah mandi dan minum teh untuk melepas dahaga, Pakdhe Yono membagikan potongan kue terakhir itu kepada anak istrinya dan melihat mereka memakannya dengan lahap. “Pak, ini roti mahal dan enak sekali. Juragan Mitro baik sekali ya?”kata Dudul, anak Pakdhe Yono yang bungsu. sambil menunggui mereka makan, Pakdhe Mitro menceritakan pengalamannya semuanya kepada keluarganya bahwa dia sebenarnya mendapat 5 potong roti yang besar dan terpaksa memberikannya sepotong demi sepotong dalam perjalanannya. Setelah bercengkrama dengan keluarga dan mencium kening anak-anaknya akhirnya Pakdhe Yono dan istrinya Yu Masirah pergi untuk istirahat.  Pakdhe Yono berpamitan dengan istrinya sebelum dia tertidur, Yu Masirah menunggui suaminya sampai tertidur dan kemudian mencium kening Pakdhe Yono kemudian matanya berkaca-kaca sambil berkata, “Pak, aku bangga sekali bapak mempimpin keluarga ini. 5 potong roti dari bapak sudah mengajarkan kepada kami bahwa Anugerah dari Tuhan itu harus dibagi menjadi 5 bagian sebelum anugerah itu menjadi sempurna. Potongan pertama untuk orang yang tidak beruntung, kedua untuk orang dengan keterbatasan, ketiga untuk anak-anak dan mengucap syukur kepada alam, yang keempat kita pun harus rela berbagi anugerah itu kepada orang yang membenci kita, dan potongan terakhir yang akan membuatnya sempurna adalah anugerah yang dinikmati bersama dengan orang yang kita cintai. Aku mencintaimu mas Yono.”

Maukah kita membagi-bagi roti anugerah itu dan menikmati potongan terakhirnya dengan orang yang kita cintai?

 

Gambar : Anak kecil yang sedang berdoa, gambar yang dikirim via skype dari orang yang sangat berarti untukku. Terima kasih, Titi.

Cerita : Dari mimpiku di suatu malam yang aku coba ingat kembali.

Published by

Richard Reynaldo

Richard Reynaldo alias Raden Mas Gandrik

7 thoughts on “Sepotong Kue Terakhir dari Pakdhe Yono”

  1. Sebuah mimpi yg sangat indah dan penuh makna syukur kepada Tuhan. Keseriusan dari seorang bayi yg berdoa walaupun dia masih belum sempurna dgn ilernya, hehe.

    Saya yakin setiap detil hidup Anda, pasti selalu terselip rasa syukur :o)
    I never regret to become your secret admirer🙂

  2. Secret admirer :

    Sebuah mimpi yg sangat indah dan penuh makna syukur kepada Tuhan. Keseriusan dari seorang bayi yg berdoa walaupun dia masih belum sempurna dgn ilernya, hehe.

    Saya yakin setiap detil hidup Anda, pasti selalu terselip rasa syukur :o )
    I never regret to become your secret admirer :)

    terima kasih untuk my secret admirer, semoga juga dapat menjadi berkat bagi sesama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s