Pembunuhan Karakter Bangsa Indonesia

“Motifnya bisa apa saja, tapi ini lebih ke pembunuhan karakter,” kata Ariel.

Istilah ini mungkin sering terdengar di berita mengenai politik di Indonesia. Menurut Wikipedia pembunuhan karakter adalah istilah yang sering digunakan pada peristiwa saat massa atau media massa melakukan pengadilan massa atau pengadilan media massa dimana seseorang diberitakan telah melakukan kejahatan atau pelanggaran norma sosial tanpa melakukan konfirmasi dan bersifat tendensius untuk memojokkan orang itu. Namun dalam arti kehidupan berbangsa dan bernegara kita sedang mengalami pembunuhan karakter secara perlahan-lahan.

Karakter suatu bangsa dapat dilihat dari beragam budaya yang terdapat dalam sebuah negara. Negara yang kaya dan berkarakter dapat dilihat dari negara yang mampu mempertahankan eksistensi karakter dan budaya ditengah derasnya arus global.

Budaya Bahasa

“Kita disini sebagai penyelenggara mampu meng organize setiap even rave party sehingga crowd nya dapat dirasakan oleh setiap customer yang datang di tempat kami.” HM, Event Organizer

“Peluangnya fifty-fifty, saya kira Inter akan mengambil inisiatif menyerang lebih dahulu dan Cambiasso sebagai jenderal lapangan tengah mampu meng-handle nya dengan baik.”

PR, Komentator sepak bola

“Gile banget, sumpah top abiss, buat elu-elu pada kalo mau have fun dateng aja di di acara ini, buat yang mau nembak, ngedate ato apapun musti dateng ke acara ini. See you guys.”

VM, pembawa acara pentas seni.

Pembunuhan pertama adalah bahasa. Suatu bangsa dikatakan kaya jika bahasanya kaya juga. Tingkat kerusakan bahasa Indonesia sudah sangat parah jika dibandingkan dengan bahasa Inggris atau bahasa lainnya. Kita bisa bayangkan betapa kayanya bahasa jawa misalnya, untuk satu kata JATUH bahasa jawa punya lebih dari 5 kata untuk men sinonimkan kata Jatuh : ada tibo, nggeblak, njungkel, ngglasar, natap, nggledak begitu juga dengan kata TENDANG dengan sinonim dalam bahasa jawa antara lain ndupak, nggajul, nendang, mancal. Itu masih dari bahasa jawa saja, belum dari daerah lain yang berjumlah ratusan.

Penggunaan bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa lain seperti Inggris atau bahasa lain bagi sebagian orang berguna untuk menunjukkan citra dirinya dalam pergaulan. Dapat dibayangkan jika 10 tahun lagi banyak orang tidak mengetahui bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Sialnya saya sekarang sedang terkena wabah ini. Entah berapa kali saya menggunakan “bahasa campuran” ini dalam kehidupan sehari-hari saya.

Budaya barat sekarang ini sangat mewabah di Indonesia. Mulai dari busana, piranti elektronik dan mungkin dalam berperilaku. Begitu juga dengan budaya Arab. Budaya arabianisasi ini sangat begitu getolnya bangsa ini menerapkannya sampai-sampai Provinsi Aceh menerapkan standar tersendiri dalam berbusana dan sampai ada razia untuk mentertibkannya.

Seiring dengan bebasnya demokrasi dan kebebasan untuk mengekspresikan diri membuat budaya arabianisasi ini cukup marak di Indonesia. Ada yang meniru dari gaya bicara yang kearab-araban ada juga dengan selalu pakai baju koko dimanapun juga sampai berbelanja di pasar-pun harus menggunakan baju koko untuk sebagian orang. Budaya jilbabinasi untuk kalangan wanita juga sangat marak di Indonesia dengan dalih untuk kembali ke sang Khalik. Beramai-ramai artis Indonesia memplokamirkan diri untuk berjilbab dan ini merupakan sinyal positif tentunya karena paling tidak dengan atribut tersebut, menjadi terkesan lebih religius. Jilbabisasi juga mewabah di kalangan mahasiswa dan pelajar namun busana santun itu tidak diimbangi dengan perilaku yang santun juga.

Beberapa dari banyak aspek diatas membuat bangsa Indonesia menjadi kehilangan identitasnya di mata dunia. Bulutangkis sebagai kebanggaan Indonesia satu-satunya di bidang olah raga telah runtuh oleh dominasi Cina. Bali sebagai kebanggaan Indonesia di bidang wisata telah dihancurkan oleh teroris,

Sangat dibanggakan seperti masyarakan Jepang yang memakai busana jas berdasi ala barat, bersepatu klimis ala Italia dan beralat (gadget) canggih ala Jepang namun ketika bertemu dengan sesama orang di jalan masih bisa tersenyum manis khas Jepang sambil membungkukkan badan memberi hormat dan ketika pulang ke rumah dengan memakai kaus kaki saja dan meletakkan sepatunya di rak depan rumah. Atau juga budaya Jepang yang sangat disiplin dan tetap berdampingan dengan budaya lain namun dapat mendorong sebuah bangsa menjadi lebih maju.

Semoga dengan banyaknya budaya lain yang masuk membuat bangsa ini tidak dijajah bangsa lain, walaupun itu adalah penjajahan budaya.

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Pembunuhan_karakter

http://entertainment.kompas.com/read/2010/06/14/17211766/Luna.Merasa.Ditonjok..Ariel.Merasa.Difitnah.-8


Bookmark and Share

Published by

Richard Reynaldo

Richard Reynaldo alias Raden Mas Gandrik

One thought on “Pembunuhan Karakter Bangsa Indonesia”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s